• RSS
  • Delicious
  • Digg
  • Facebook
  • Twitter
  • Linkedin
  • Head line 1:gunung heru "website ini sebagai sarana komunikasi, informasi dan mempererat tali silahturahmi, mohon kepada rekan-rekan pataka 83 no ak 790035"
  • Head line 2:Wishnu S. Kol Lek 505527/ No Ak 790341 "Selamat, Pataka 83 sudah punya Blog sendiri, sarana bagus untuk saling komunikasi dan tukar informasi"
  • Head line 3:M. Atok Urrahman "dengan silaturrahmi, dapat menyelesaikan permasalahan dan panjang umur."
  • Head line 4:gunung heru "no 790035, bila ingin posting berita silahkan kirim email ke : pataka83@ymail.com akan langsung dimuat"
  • Head line 5:B.Zuiirman "Sosialisasikan.... sarana ini utk tetap tertaut...ok....

Selasa, 15 Maret 2011

BINCANG-BINCANG DENGAN KOLONEL INF FRANSEN G SIAHAAN, SEPARATISME BUKAN MUSUH TNI AD

Posted by pataka83 On 15.04 No comments

 Oleh : Gara Hendrik :
Resmi menjabat sebagai Komandan Korem (Danrem) 171/PVT, Kolonel Inf Fransen G Siahaan menyimpan sejumlah obsesi. Namun untuk kebijakan yang akan dilaksanakan, tidak lepas dari dari tugas-tugas TNI AD di lingkungan Kodam XVII/Cendrawasih, khususnya diwilayah Korem 171/PVT. Sesuai Undang-Undang Nomor 34 Tahun 2004, disebutkan tugas yang pertama sebagai Danrem yang merupakan Komandan Kewilayahan yakni menyiapkan dan mengamankan daerah-daerah pertahanan di darat. “Tujuan saya menghadapi musuh yang akan melakukan invasi terhadap NKRI. Di dalam koridor operasi militer selain perang ada 14 pokok tugas yang mana salah satunya mengantisipasi gerakan separatis dan membantu pemerintah daerah,” terang pria kelahiran Medan 27 Mei 1958 ini. Lebih lanjut suami dari Bertha Panjaitan ini menilai gerakan separatisme di wilayah Korem 171/PVT belum terlalu mengancam.

Melaksanakan tugasnya yang baru, Danrem pun mengatakan tidak alergi untuk berdialog dengan siapa saja. Termasuk dengan kelompok separatis politik ataupun kelompok bersenjata. “Apa sih yang akan dibuat oleh bangsa ini, jadi mari kita dialog. Apa yang mungkin mereka merasakan dan inginkan mari kita sama-sama dialog. Jadi bukan kepada pemerintah saja dan TNI saja, karena TNI adalah mediator. Saya tidak mengganggap mereka sebagai musuh tapi saudara. Jadi jangan mengganggap kehadiran saya sebagai pribadi dengan jabatan Danrem 171/PVT Kolonel Inf Fransen G Siahaan lalu mengganggap mereka musuh. Apa yang mau diperjuangkan, mari kita dialog sebagai bagian dari komponen bangsa termasuk dengan tokoh agama, masyarakat, pemuda dan perempuan,” aku jebolan Taruna Akmil 1983.

Menghadapi pelaku separatis, ayah dari Daniel dan Ruth Siahaan inipun mengaku akan mengambil tindakan persuasif bukan tindakan represif. Hal ini karena mereka yang berbeda pikiran dianggap sebagai saudara bukan lawan atau musuh TNI. Selain menguraikan panjang lebar tentang pembinaan teritorial (Binter) diwilayah Kodim, rupa-rupanya Danrem yang baru ini cukup peduli dengan masalah kebersihan. Kota Sorong yang kerap masih dikelilingi sampah dinilai merupakan tanggung jawab moral semua pihak untuk membantu mengatasinya.

Danrem mengatakan hal ini karena sejak tiba di Kota Sorong yang merupakan pintu gerbang Papua, ia melihat sejumlah tempat terlihat kotor dipenuhi sampah. “Saya sebagai Danrem melihat ini sebagai tanggung jawab moral. Jangan kita melihat ini tugas Pemda, Dinas PU Kota atau Dinas Kebersihan Kota Sorong. Ini semua menjadi tanggung jawab kita semua. Program saya itu dulu kebersihan dan penghijauan,” ujar Danrem 171/PVT Kolonel Inf Fransen G Siahaan.

Mengenal lebih dekat Danrem 171/PVT yang baru ini, Kolonel Inf Fransen G Siahaan yang lahir dan dibesarkan di Medan merupakan alumni Akmil tahun 1983. Dalam perjalanan karir militernya, awal tugasnya ditempatkan di Batalyon Linud 330/Kostrad Bandung dengan jabatan mulai dari Danton, Danki hingga menjabat Kasi Ops tahun 1995. Kemudian menjabat sebagai Danyon Linud 431/Kostrad Makassar (1996-1998). Setelah mengikuti pendidikan Sesko, Kolonel Inf Fransen G Siahaan menjabat sebagai Kasi Intel Korem 172 di Jayapura (tahun 1999-2000) dan tahun 2000-2001 menjabat sebagai Dandim Timika.

Selanjutnya ia ditarik ke Brigif Linud 17/Kujang I/Kostrad di Cijantung Jakarta. Di tahun 2001-2002 menjabat sebagai Kepala Staf Barigade Brigif Linud 17 Kujang I Kostrad. Dan selama dua tahun (2002-2004) menjabat sebagai Komandan Brigif 18 Kostrad Malang. Tahun 2006 Kolonel Inf Fransen G Siahaan dipromosikan sebagai sebagai Asisten Operasi Kodam IV Diponegoro Semarang dan jabatan terakhir sebelum ke Sorong adalah Komandan Pusat Pendidikan Jasmani TNI AD Bandung. Darah prajurit ternyata mengalir ke puteranya Daniel Franky Siahaan yang kini tercatat sebagai taruna Akmil tingkat II. “Anak saya terpilih berangkat ke Thailand mewakili Taruna Akademi TNI AD. Yah semacam pertukaran taruna untuk pendidikan dengan Thailand,” tuturnya. (sumber :www.cenderawasihpos.com/Dj)

0 komentar:

Poskan Komentar